Apa yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari, hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.
Entah itu karier, percintaan, keluarga, kejujuran, dan sebagainya, hanya kita yang tau......
Semasa seatap dengan RGG, kami semua hanya memikirkan masalah kuliah, bagaimana mengatur keuangan sendiri, kenapa sang arjuna, belahan jiwa itu tak kunjung datang, bagaimana mencuci baju kotor yang sudah segunung, setrikaan yang juga segunung.
Tak pernah sekalipun terlintas apa yang menjadi hal yang terpenting dalam kehidupan ini sampai kami menutup mata kami nanti.
Sekarang, setelah terpisah oleh jarak, oleh kegiatan. Mau tidak mau kami semua, mungkin terutama aku, harus memutuskan apa yang terpenting dalam kehidupan ini.
Apa yang akan dilakukan ketika diperhadapkan dengan pekerjaan dengan keluarga.....
Kalau sekarang aku bilang aku ingin utamakan keluarga, tapi tidak tau ke depan bagaimana...
Karena, bukannya mau sok suci, tapi semuanya tergantung sama Dia yang menciptakan aku, kamu dan mereka........
Ke depan, tidak ada yang tahu apa yang khan terjadi.
Sekarang kami dengan kegiatan kami masing2, kerja di kantor, chat dari rumah, ngajar anak-anak; mencoba menetukan what's the most important thing in our life.....
Peace
Nini \^0^/
Kamis, 17 April 2008
the imPorTant tHing
Diposting oleh
Red Gate Girls
di
20.50
0
komentar
Minggu, 06 April 2008
Da Galz
By Nini
“Pokoknya sangat menyebalkan. Tiap kali berada di tempat itu, serasa di neraka. Baru pada saat aku berada di luar pagar diri ini serasa damai.”
“Ya perasaan selama tinggal di situ aku sakit-sakitan terus. Padahal kalau aku pulang ke rumahku, baik-baik saja tuch!”
De el el .........
Kalimat-kalimat itu terus terlontarkan dari mulut teman-temanku. Ini kasus yang ter-buruk yang pernah aku dengar tempat itu.
Ngomong-ngomong, namaku Kiera, but teman-teman memanggilku Qhei atau Kie-chan. Unik khan?! Saat ini aku berada dari kota kelahiranku. Aku tinggal disebuah kota yang dekat, bahkan terletak di pinggir pantai. Sebuah kota yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil, sebuah kota yang bernama Morin. Kenapa aku berada disini? Itu yang pasti kalian tanyakan. Well, saat ini aku kuliah disini, bahkan saat ini juga aku memasuki tahun yang sebenarnya aku malu untuk mengatakannya. Anyway, sebelum aku berada ditempatku sekarang, aku sempat tinggal bersama ibu dari mamaku (walau dirumah aku manggilnya mami), juga serumah bersama om-om, tante-tante bahkan keponakanku. It’s really crowd! So many people stay there. But, thanks God, semuanya bisa tertampung dalam rumah kontrakan yang cukup besar itu (pasti kamu tidak percaya kalau ada rumah kontrakan yang sedemikian gedenya bisa menampung sekitar kurang lebih 15 orang, khan?!).
Sungguh tahun yang paling membuat aku sempat mengalami a little culture shock dan keadaan yang sangat tidak terkontrol buat diriku. Culture shock, karena kota ini mempunyai kebudayaan dan bahasa yang berbeda dengan kota kelahiranku, walaupun aku beberapa kali bolak-balik Morin - Makare, tapi tetap itu terjadi. Tak terkontrol... Well, bayangkan saja, kurang lebih tujuhbelas tahun aku tinggal bersama orangtuaku, dimana semua urusan rumah tangga keluarga kami diatur oleh orangtuaku. Dan saat itu, saat aku memulai kuliahku, saat aku tinggal dengan orang lain walau masih keluargaku sendiri, aku harus mengatur segala yang sekarang menjadi tanggung-jawabku (khususnya dalam mengurus keuangan). Peraasaan yang aku rasakan saat itu bagaikan burung yang terlepas dari sangkar yang telah mengungkung selama bertahun-tahun. Perasaan ingin tahu akan kehidupan di luar sangkar, itulah yang aku rasakan. Dan pada kenyataannya semuanya menjadi sangat tidak teratur bagiku (aku mempunyai sedikit masalah dalam time management). Apalagi saat aku diberikan komputer oleh orangtuaku, ketika aku tahu bagaimana cara chatting di dunia maya dan bahkan – ini hal yang kemudian beberapa tahun yang lalu, aku sadari sebagai kondisi yang sangat tidak dapat diterima oleh logikaku – pacaran dalam dunia maya (tidak pernah face to face tapi mengganggap sudah pacaran, really silly!). Dan parahnya lagi aku mulai suka pulang terlambat kerumah, mulai belajar berbohong (walau aku rasa dari kecil aku berkali-kali berbohong) bahkan sampai menginap di warnet (ini yang paling, paling, paling parah). Hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, itu yang aku lakukan saat itu.
Tidak sampai satu tahun, orangtuaku memindahkan aku ke tempat itu. And i’m not alone this time, ada empat belas orang cewek, yang rata-rata seumuran denganku dan tentu saja sang pemilik tempat itu. Dan ini merupakan hal yang paling, paling, paling, paling terbaru bagiku. Tinggal dengan orang lain yang sangat asing bagiku. Juga aku harus do everything on my own. Sakit, urus diri sendiri; lapar, beli makan sendiri; kesepian atau feel borring, jalan-jalan sendiri. Selebihnya aku habiskan waktuku dengan belajar dan menapaki malam demi malam dengan mereka, The Galz.
Dan apa yang kalian baca selanjutnya merupakan sebagian kisah nyata yang tidak dibuat-buat dan tanpa direkayasa. Sebuah isi hati mengenai kisah persahabatan yang mengalami masa manis dan pahitnya dalam menapaki setiap tapak jalan yang ada di masa depan mereka.
“Ya perasaan selama tinggal di situ aku sakit-sakitan terus. Padahal kalau aku pulang ke rumahku, baik-baik saja tuch!”
De el el .........
Kalimat-kalimat itu terus terlontarkan dari mulut teman-temanku. Ini kasus yang ter-buruk yang pernah aku dengar tempat itu.
Ngomong-ngomong, namaku Kiera, but teman-teman memanggilku Qhei atau Kie-chan. Unik khan?! Saat ini aku berada dari kota kelahiranku. Aku tinggal disebuah kota yang dekat, bahkan terletak di pinggir pantai. Sebuah kota yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil, sebuah kota yang bernama Morin. Kenapa aku berada disini? Itu yang pasti kalian tanyakan. Well, saat ini aku kuliah disini, bahkan saat ini juga aku memasuki tahun yang sebenarnya aku malu untuk mengatakannya. Anyway, sebelum aku berada ditempatku sekarang, aku sempat tinggal bersama ibu dari mamaku (walau dirumah aku manggilnya mami), juga serumah bersama om-om, tante-tante bahkan keponakanku. It’s really crowd! So many people stay there. But, thanks God, semuanya bisa tertampung dalam rumah kontrakan yang cukup besar itu (pasti kamu tidak percaya kalau ada rumah kontrakan yang sedemikian gedenya bisa menampung sekitar kurang lebih 15 orang, khan?!).
Sungguh tahun yang paling membuat aku sempat mengalami a little culture shock dan keadaan yang sangat tidak terkontrol buat diriku. Culture shock, karena kota ini mempunyai kebudayaan dan bahasa yang berbeda dengan kota kelahiranku, walaupun aku beberapa kali bolak-balik Morin - Makare, tapi tetap itu terjadi. Tak terkontrol... Well, bayangkan saja, kurang lebih tujuhbelas tahun aku tinggal bersama orangtuaku, dimana semua urusan rumah tangga keluarga kami diatur oleh orangtuaku. Dan saat itu, saat aku memulai kuliahku, saat aku tinggal dengan orang lain walau masih keluargaku sendiri, aku harus mengatur segala yang sekarang menjadi tanggung-jawabku (khususnya dalam mengurus keuangan). Peraasaan yang aku rasakan saat itu bagaikan burung yang terlepas dari sangkar yang telah mengungkung selama bertahun-tahun. Perasaan ingin tahu akan kehidupan di luar sangkar, itulah yang aku rasakan. Dan pada kenyataannya semuanya menjadi sangat tidak teratur bagiku (aku mempunyai sedikit masalah dalam time management). Apalagi saat aku diberikan komputer oleh orangtuaku, ketika aku tahu bagaimana cara chatting di dunia maya dan bahkan – ini hal yang kemudian beberapa tahun yang lalu, aku sadari sebagai kondisi yang sangat tidak dapat diterima oleh logikaku – pacaran dalam dunia maya (tidak pernah face to face tapi mengganggap sudah pacaran, really silly!). Dan parahnya lagi aku mulai suka pulang terlambat kerumah, mulai belajar berbohong (walau aku rasa dari kecil aku berkali-kali berbohong) bahkan sampai menginap di warnet (ini yang paling, paling, paling parah). Hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, itu yang aku lakukan saat itu.
Tidak sampai satu tahun, orangtuaku memindahkan aku ke tempat itu. And i’m not alone this time, ada empat belas orang cewek, yang rata-rata seumuran denganku dan tentu saja sang pemilik tempat itu. Dan ini merupakan hal yang paling, paling, paling, paling terbaru bagiku. Tinggal dengan orang lain yang sangat asing bagiku. Juga aku harus do everything on my own. Sakit, urus diri sendiri; lapar, beli makan sendiri; kesepian atau feel borring, jalan-jalan sendiri. Selebihnya aku habiskan waktuku dengan belajar dan menapaki malam demi malam dengan mereka, The Galz.
Dan apa yang kalian baca selanjutnya merupakan sebagian kisah nyata yang tidak dibuat-buat dan tanpa direkayasa. Sebuah isi hati mengenai kisah persahabatan yang mengalami masa manis dan pahitnya dalam menapaki setiap tapak jalan yang ada di masa depan mereka.
(bersambung....)
Diposting oleh
Red Gate Girls
di
09.36
1 komentar
Langganan:
Komentar (Atom)
